Kita Belum Dewasa

Kita Belum Dewasa


Tidak semua cermin memantulkan wajah. Sebagian justru memantulkan sikap, cara berpikir, dan reaksi kita saat hidup tidak berjalan sesuai rencana. Buku Kita Belum Dewasa adalah salah satu cermin itu, cermin yang diam dan jujur. Buku ini bukan sekadar kumpulan renungan, apalagi ceramah moral yang menggurui. Ia hadir sebagai tulisan yang lembut sekaligus tajam, mengajak pembaca menyusuri lorong-lorong batin yang jarang disinggahi. Di sini, kedewasaan tidak didefinisikan lewat angka usia, jabatan, atau status sosial, melainkan melalui cara kita bersikap pada luka, pada perbedaan, pada kegagalan, dan pada diri sendiri.

Buku ini berbicara tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian, seperti cara kita bereaksi ketika tidak dipahami, cara kita menyikapi kritik, cara kita mencintai tanpa ingin menguasai dan cara kita melepaskan tanpa harus membenci. Dalam setiap halaman, pembaca diajak berhenti sejenak, menunda penghakiman, lalu bertanya dengan jujur, apakah selama ini kita benar-benar bertumbuh, atau hanya sekadar bertambah umur?

Buku ini hadir di tengah zaman yang serba cepat, ketika kedewasaan sering diukur dari pencapaian, jabatan, atau usia. Kita diajarkan untuk tampak matang, terlihat kuat, dan selalu tahu jawaban. Namun kenyataannya, banyak dari kita yang masih belajar mengelola emosi, masih gemetar saat harus bertanggung jawab, dan masih sering kalah oleh ego sendiri. Kita Belum Dewasa berangkat dari kejujuran sederhana itu.

Jika setelah membaca buku ini Anda merasa terusik, tersentuh, atau bahkan tersenyum pahit, itu pertanda baik. Artinya, proses pendewasaan sedang bekerja. Sebab sebelum menjadi dewasa, kita memang harus berani mengakui satu hal paling mendasar: kita belum dewasa, dan perjalanan untuk belajar baru saja dimulai.


Judul : Kita Belum Dewasa
Penulis : Sugioto
Penerbit : Terakata
Harga : 120.000
ISBN : Dalam Proses Pengajuan

 

Tidak ada komentar